Selasa, 07 Januari 2014

Jurnal Penelitian

Contoh jurnal penelitian pada tugas komputer

Makalah Ilmu Pangan Dasar

Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di air
tawar, seperti sungai dan danau.
4Dalam banyak hal, lingkungan air tawar berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan
yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya.Untuk bertahan di air tawar, ikan
membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion
dalam tubuh. 41% dari seluruh ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi
yang cepat yang menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali.
Daging ikan air tawar tidak begitu padat, lebih banyak mengandung air dan cepat hancur bila
dimasak.
Ikan air tawar memiliki karakter yang berbeda-beda tergantung pada jenis ikannya.
Namun, ikan air tawar pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama, misalnya kulit banyak
mengandung kelenjar lendir,tertutup oleh sisikm sirip dan ekor berbentuk simetris,
pembuahannya terjadi diluar tubuh, dan insangnya dilindungi oleh tutup insang.


selengkapnya >>

PENYULUHAN KESEHATAN GIZI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT PADA MASYARAKAT

Kehidupan modern menuntut kita agar selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, baik
kesehatan pribadi maupun kesehatan lingkungan. Yang dimaksud kesehatan pribadi menurut Muri’fah dan
Herdianto (1992: 8) adalah “kesehatan atau kebersihan diri sendiri seutuhnya yaitu meliputi seluruh aspek
pribadi, fisik, mental, sosial agar tumbuh dan berkem-bang secara harmonis.” Sedangkan kesehatan lingkungan
menurut Muri’fah dan Herdianto (1992: 8) adalah “ Kesehatan yang berada di luar diri meliputi lingkungan
biologis dan lingkungan fisik.”
Sehat adalah tidak adanya gangguan terhadap jasmani, rohani, dan sosial. Kesehatan mencakup pribadi
seseorang seutuhnya meliputi sehat pisik, sehat mental, dan sosial. Pemahaman sehat tersebut sesuai dengan
pengertian sehat yang dikemukakan WHO yang dikutip oleh Mari’fah (1992: 1) adalah “ keadaan yang meliputi
kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kesehatan sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat,
dan kelemahan.”
Dengan demikian tidak cukup suatu masyarakat bebas dari penyakit, tetapi juga harus mencakup
keseluruhan, sehat secara total seperti dikemukakan WHO. Untuk mencapainya, masyarakat perlu diberi
pendidikan kesehatan yang secara sistematis akan membekali mereka dalam kehidupannya dan merupakan
sikap hidup sehari-hari.
Sikap hidup merupakan pandangan hidup yang harus ditanamkan pada masayarakat dari mulai lahir
sampai hayatnya dan harus menjadi kebiasaan hidup sehari hari dalam keluarga maupun dalam, masyarakat.
Dengan demikian, akan terbentuk pribadi-pribadi yang sehat, yang akhirnya dapat menunjang terhadap
produktivitas tenaga kerja.
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga
tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi (Atmarita, 2004). Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari
penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian
ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup.
Akhir-akhir ini, di masyarakat kita mulai menyeruak banyak masalah kesehatan dan gizi yang perlu
mandapat perhatian. Kasus busung lapar misalnya, merupakan contoh betapa pemahaman kese-hatan di
masyarakat masih minimal. Sehingga kita tercengang ketika data menunjukkan bahwa di Indonesia anak-anak
Balita (di bawah lima tahun) delapan persen menderita busung lapar alias gizi buruk. Kalau proyeksi penduduk
Indonesia yang disusun Badan Pusat Statistik tahun 2005 ini jumlah anak Balita usia 0-4 tahun berjumlah 20,87
juta anak (Kom-pas, 28 Mei 2005), itu berarti saat ini ada sekitar 1,67 juta anak Balita yang menderita busung
lapar. Belum lagi kasus polio dan kusta yang tahun ini juga sempat mencuat di beberapa daerah di Indonesia.
Urusan kesehatan merupakan urusan lingkungan, sikap, dan perilaku masyarakat. Hal ini diper-kuat hasil
penelitian Hendrik L. Blum yang dikutif Saeful Millah (Pikiran Rakyat, 3 Juni 2005), bahwa dari empat faktor kunci
yang mempengaruhi derajat kese-hatan, maka aspek pelayanan hanya memiliki kontribusi 20%. Sementara
sebagian besar 80%, dipengaruhi oleh tiga faktor lainnya. Yaitu, 45% ditentukan oleh lingkungan, 30% perilaku
masyarakat, dan 5% ditentukan faktor keturunan.


Tugas Powerpoint

Powerpoint tentang Distribusi Frekuensi Sampel pada tanggal 06112013

Click disini

Power point Ulfa

power Point tentang SEJARAH PERTUMBUHAN, KEDUDUKAN, DAN
FUNGSI BAHASA INDONESIA pada tanggal 22102013

click disini

Status gizi


ABSTRAK
Status gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. 
Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan 
kecerdasan dan menurunkan daya tahan tubuh yang berakibat meningkatnya angka 
kesakitan dan kematian. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar di Sumatera Utara 
prevalens status gizi lebih adalah 4,5%, status gizi baik 72,2%, gizi kurang 14,3% 
dan gizi buruk 8,4%. 
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Tujuan 
penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak 
balita di Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2010. Populasi adalah 
seluruh anak balita berusia 12-59 bulan di Desa Kolam. Sampel adalah anak balita 
berusia 12-59 bulan di Dusun IX yang berjumlah 105 orang. Analisis data dilakukan 
dengan univariat, bivariat dan multivariat.

selengkapnya :)

HUBUNGAN FREKUENSI ISPA DENGAN STATUS GIZI BALITA

Karakteristik sampel
Dari 180 sampel diperoleh 82 perempuan (45,6%), dan 98 (54,4%). Usia termuda
adalah 2 bulan dan usia tertua adalah 56 bulan. Rata-rata umur sampel adalah 22,4
bulan dengan simpangan baku 13,9. Berat badan terendah 4,5 kg dan tertinggi 25 kg.
Rata-rata berat badan adalah 10,1 dengan simpangan baku 3,1. Dari uji normalitas
diperoleh sampel berdistribusi normal (p>0,05). Berdasarkan stándar WHO 2005
diperoleh sebanyak 4 anak (2,2%) mempunyai status gizi buruk, 31 anak mempunyai
status gizi kurang (17,2%), 144 anak mempunyai status gizi baik (80%), dan 1 orang
anak mempunyai status gizi lebih (0,6%). Gizi buruk terjadi pada anak berusia 4, 9,
12, dan 48 bulan sedangkan gizi kurang sebagian besar terjadi diatas usia 1 tahun.
 4Frekuensi ISPA paling banyak adalah 1 kali sebanyak 77 sampel (42,8%), diikuti dua
kali sebanyak 71 sampel (39,4%), 3 kali sebanyak 30 sampel (16,7%), dan terakhir 4
kali sebanyak 2 sampel (1,1%).
Status Gizi
Tingginya angka status gizi kurang (17,2%) dan gizi buruk (2,2%) menunjukkan
bahwa kota Semarang memiliki masalah gizi yang berat. Terdapatnya kasus
malnutrisi pada semua golongan umur menunjukkan bahwa malnutrisi pada anak
mungkin tidak dapat diatasi sehingga terus berlangsung. Hal ini mungkin disebabkan
karena keadaan sosial ekonomi masyarakat yang kurang baik, ketidaktahuan
masyarakat tentang gizi, dan kurangnya peran pemerintah dalam usaha perbaikan
status gizi masyarakat. Penanganan gizi buruk sebaiknya tidak hanya difokuskan di
pelayanan kesehatan pemerintah saja, namun juga harus disebarluaskan di pelayanan
kesehatan swasta karena biasanya tenaga kesehatan yang bekerja di pelayanan
kesehatan swasta tidak melaporkan atau bahkan menyadari adanya pasien gizi buruk
yang berobat ke tempat mereka. Mereka biasanya hanya terfokus pada penyakit yang
dikeluhkan saja. Dengan penyebarluasan informasi mengenai gizi buruk di pelayanan
kesehatan swasta akan membuat tenaga medis yang bekerja di tempat tersebut lebih
peduli sehingga dapat membantu mengatasi masalah gizi buruk di masyarakat.
Tenaga kesehatan harus sering turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan
langsung kepada masyarakat terutama pada kaum ibu tentang masalah gizi sehingga
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya zat gizi untuk
anak-anak mereka.
 Pencegahan malnutrisi pada anak juga dapat dilakukan dengan
pemeriksaan kehamilan rutin sejak dini. Gizi buruk pada balita bisa terjadi karena
gangguan pada masa kehamilan seperti defisiensi zat gizi pada ibu hamil. Hal ini
dapat diketahui apabila ibu hamil rutin memeriksakan kehamilannya. Di Indonesia,
masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan adalah hal biasa, tidak perlu
diperiksa secara rutin. Ada juga ibu hamil yang lebih senang memeriksakan
kehamilan pada dukun bayi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang
masalah kehamilan. Hal ini membuat gangguan pada masa kehamilan terutama
 5defisiensi zat gizi tidak terdeteksi sehingga terus berlangsung sampai janin dilahirkan.
Bayi yang selama dalam kandungan mengalami defisiensi zat gizi pasti akan
mempunyai masalah dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Apalagi sering
terjadi defisiensi zat gizi ini terus berlangsung pada bayi, sehingga pertumbuhan dan
perkembangannya sangat kurang, jauh di bawah normal.

selengkapnya, click disini

Template by:

Free Blog Templates